"Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung." Surat al-Jumu`ah: 9-10
Ayat yang mulia diatas memberi gambaran tentang kegiatan kaum muslimin pada hari jum`at. Sebagaimana orang Yahudi yang mengistimewakan hari Sabtu dan kaum nasrani menghormati hari Ahad, Jum`at merupakan hari yang istimewa bagi kaum muslimin. Karenanya Allah swt telah memberikan bimbingan tentang berbagai kegiatan yang seharusnya mereka lakukan di hari ini.
Pada ayat di atas, ada dua kegiatan yang sangat menonjol. Pertama adalah kegiatan "ibadah". Kaum muslimin hendaknya menyiapkan diri secara penuh sejak pagi hari, bahkan dianjurkan pada malam-malam hari Jum`at dihidupkan dengan memperbanyak dzikir dan qiyqmul-lail.
Bukan berarti pada malam-malam yang lain kegiatan itu tidak perlu, tapi khusus pada malam hari Jum`at hendaknya volume kegiatannya ditingkatkan.
Pada pagi hari kaum muslimin sudah bersiap dengan "mandi jum`at", memilih pakaian putih atau setidak-tidaknya yang polos, memakai wewangian, dan menghentikan segala kegiatan sebelum seruan adzan dikumandangkan.
Semua kegiatan yang bersifat jasmaniyah itu untuk mendukung kondisi batiniyah agar lebih banyak ingat kepada Allah swt. Dzikir hendaknya merupakan nuansa utama segala kegiatan di hari itu. Termasuk kegiatan mencari nafkah yang seyogianya tetap dilaksanakan.
Di mata Allah, tinggi rendahnya derajat seseorang sangat ditentukan oleh seberapa besar dan keras usahanya. Sedangkan besar kecilnya hasil dari jerih payah mereka semata-mata merupakan ketetapan Allah. Jaminan Allah bagi pekerja keras adalah derajat yang mulia. Sedangkan hasil dari kerja keras akan dijamin mencukupi segala kebutuhannya.
Hebatnya, kata "cukup" di sini tidak selalu identik dengan jumlah nominal. Ada yang penghasilannya besar tapi tak kunjung mencukupi kebutuhannya. Sebaliknya ada yang penghasilannya tergolong pas-pasan tetapi semua kebutuhan tercukupi, bahkan bisa banyak beramal. Matematika yang khas Allah swt ini dijelaskan di dalam al-qur`an, "Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang meraka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka, sadangkan mereka tidak dirugikan" (QS Al-ahqaaf : 19 ).
Tentu saja tidak asal banyak bekerja, sabab yang akan dinilai berikutnya adalah baik buruknya pekerjaan itu. Pekerjaan yang buruk akan menghasilkan keburukan. Sedangkan pekerjaan baik akan menghasilkan kebaikan. Balasan Allah, baik di dunia maupun di akhirat juga sangat ditentukan oleh keburukan atau kebaikannya. Sebagaimana yang digariskan Allah, "dan barang siapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi bersungguh sungguh telah beramal shalilh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh derajat yang tinggi" (QS Thaaa : 75 )
Dari kedua ayat yang dikutip diatas, semakin jelaslah bahwa beramah shalih dan berkarya sekeras mungkin sangat dianjurkan. Tidak ada alasan bagi kaum muslimin untuk meninggalkan pekerjaan, bahkan pada hari Jum`at yang sangat diistimewakan. Mereka tetap diperintahkan untuk bertebaran di muka bumi dan mencari karunia Allah. Itu artinya, ibadah Jum`at bukan alasan untuk meninggalkan pekerjaan dan beramal shalih mencari nafkah.
Untuk menjadi hamba Allah yang taat tidak harus meninggalkan pekerjaan. Bahkan sebaliknya, orang-orang yang meninggalkan pekerjaan bisa jadi akan menghambat tugas sebagai seseorang hamba Allah secara baik. Banyak sekali dijelaskan berbagai fadhilah (keutamaan) dari bekerja mancari karunia Allah swt. Pertama, Allah mencintai mereka yang beramal. Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Allah mencintai orang beriman yang berkarya" (HR Thabrani dan Baihaqi)
Kedua, Allah memuliakan orang-orang yang beriman dan beramal. Sebagaimana yang dinyatakan Allah sendiri, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal yang baik, mereka itu adalah sebaik-baiknya makhluk" (QS Al-Bayyinah : 7 )
Ketiga, Allah akan melimpahi rahmat kepada mereka yang beramal. Sebagaimana janji-Nya, "Maka adapun orang-orang yang beriman dan baramal yang baik akan dimasukkan Allah ke dalam rahmat-Nya, yang demikian itu adalah kejayaan yang nyata" (QS Al-Jatsiyah : 30 )
Keempat, dosa-dosa orang yang bekerja dengan sungguh sungguh, akan diampuni oleh Allah swt. Seperti yang dijamin Allah, "Dan orang-orang yang beriman kepada Allah serta beramal shalih, niscaya Allah akan menghapuskan dosa-dosa mereka" (QS At-Taqhabun : 9 ) Pada ayat yang lain Allah berfirman, "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalilh untuk mengampuni mereka dan memberi mereka ganjaran yang besar" (QS Al-Maidah : 9 ).
Kelima, orang- orang yang beramal shalih akan dimasukkan ke dalam surga- Nya. Allah berfirman, "Dan itulah surga yang akan diberikan kepadamu karena karya-karya yang telah kamu kerjakan" (QA Az-Zukhruuf : 72 ). Meskipun derajat atau balasan dari Allah cukup besar bagi mereka yang sungguh-sungguh berkarya, tapi tidak semua karya dinilai seperti itu. Hanya karya-karya orang beriman saja yang akan mendapat lima nilai yang telah disebutkan di atas.
Selain itu masih ada satu lagi syaratnya, bahwa karya itu meski memiliki nilai keunggulan alias baik mutunya. Dalam istilah al-qur`an amal itu haruslah shalih. Hanya amal shalih saja yang bernilai di sisi Allah swt artinya, segala amal, kerja dan karya orang-orang kafir akan hapus, tak bernilai apa-apa. Thomas Alfa Edison telah bekerja keras dan menghasilkan karya yang sangat berguna bagi manusia. Namun karena ia bekerja tidak dengan iman, tanpa tauhid, dan tanpa aqidah kepada Allah, maka tingginya nilai karya Edison hanya sebatas di dunia yang sebentas ini. Sedangkan di kehidupan akhirat yang kekal ia tidak mendapatkan apa-apa dari karyanya itu. Itulah sebabnya, mengapa Allah selalu mengaitkan iman dan amal sholeh dalam ayat-ayat Al-qur`an.
Seandainya ia bekerja dengan iman, maka disepanjang zaman, setiap kali orang menyalakan lampu listrik, ia mendapatkan bagian dari jariyahnya. Demikian juga karya-karya para penemu lainnya. Inilah firman Allah, "Mereka tidak beriman, maka Allah menghapuskan karya-karya mereka" (Al-Ahzaab : 19 )
Bagi seorang mukmin, bekerja dan berkarya itu hukumnya wajib. Allah sama sekali tidak menghendaki ada pengangguran di muka bumi, sebab Dia telah menitipkan bumi ini kepada manusia agar dimakmurkan. Tidak ada jalan lain untuk memakmurkan bumi ini kecuali dengan bekerja keras dan berkarya sebaik-baiknya. "Dia (Allah) telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan meminta kepada kamu untuk memakmurkannya" (QA Huud : 61 ) adalah tugas manusia untuk mendayagunakan segala potensi alam yang telah disediakan oleh Allah swt secara cuma-cuma. Allah tidak menarik pajak, apabila keuntungan dari hasil pendayagunaan alam-Nya. Allah menyerahkan sepenuhnya urusan ini kepada manusia, asal tidak dirusak saja. Potensi alam yang ada itu boleh diolah, dieksplorasi, bahkan dieksploitasi, asal tetap memperhatikan kelestarian dan keseimbangannya.
"Dan janganlah kamu membuat kerusakkan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya" (Al-A`raaf : 85 ).
Allah telah memberikan berbagai kelengkapan kepada manusia, berupa fisik yang kuat, panca indera, juga akal. Dengan akal inilah manusia bisa menundukkan semua makhluq di dunia. Bintang yang paling buas sekalipun bisa ditundukkan manusia. Alam yang paling ganas sekalipun bisa dimanfaatkan untuk memenuhi hajat hidup manusia. Ombak yang bergulung-gulung bisa diubah menjadi sumber energi. Demikian pula angin yang ribut. Bukan tidak mungkin suatu saat nanti, bencana alam yang sering menelan korban itu bisa dialihkan menjadi daya dukung bagi manusia, menjalankan tugas-tugas kekhalifahannya.
"Tidakkah kamu perhatikan, bahwa Allah telah menyerahkan kepada kamu apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi dan Dia telah menyempurnakan untuk kamu nikmat-nikmat-Nya, baik yang lahir maupun yang batin" (QS Luqmaan : 20 )
Jika sudah sedemikian besar kemurahan Allah swt, maka bagaimana dengan kita?
Sungguh tidak bersyukur jika kita tidak mau menggunakan tangan, kaki, dan kecerdasan kita untuk beramal shalih, menghasilkan karya-karya paling bermutu! (dari musholla orang )
SUMBER: Lembaran Ummul Quro, Edisi: 16 Tahun ke-5
Subscribe to:
Posts (Atom)


