Dalam beberapa hari ini, kita dibombardir dan disibukkan dengan berbagai berita yang sangat mengenaskan.

Mulai dari tragedi yang merengut korban jiwa saat pembagian zakat (sedekah/infak?) di rumah Haji Saikon, Pasuruan Jawa Timur. Kemudian jatuhnya korban jiwa di Indramayu akibat menenggak minuman keras oplosan. Lalu yang tak kalah hebohnya adalah penjualan daging sampah/busuk yang dilakukan oleh para pencari keuntungan (bukan PPT = Para Pencari Tuhan) baik skala kecil-kecilan maupun skala besar oleh pengusaha jaringan retail yang cukup ternama.

Semua fenomena dan fakta tersebut di atas terjadi di saat mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam melaksanakan ibadah puasa. Dan faktanya mayoritas korban pun adalah beragama Islam. Sungguh sebuah realita yang nyata bagi kita.

Sebagai bahan renungan, waktu diibaratkan sebagai anak panah yang melesat dengan kencang. Tak seorang pun mampu menghentikannya, atau menahan untuk memperlambatnya.

Oleh karena itu, isilah hidup ini dengan amalan yang bermanfaat. Jangan sampai amalan yang kita lakukan bersifat sia-sia bahkan merugikan diri sendiri dana orang lain serta yang lebih fatal sampai merenggut nyawa yang tak berdosa.

0 comments